Menjaga lisan
Hasan Bashri berkata,
Orang yang tidak bisa menjaga lisannya maka tidak bisa mengikat agamanya.
Dan ia berkata,
Barang siapa banyak bicara maka banyak berdusta.
Sumber Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid.
Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
|
Mencoba untuk tidak merujuk kata-kata sendiri, tetapi rujuklah melalui kata-kata emas para alim ulama kita
Rabu, 30 Oktober 2019
Menjaga lisan
Ujian kekayaan dan kefakiran
|
Ujian kekayaan dan kefakiran
Hasan Bashri berkata,
Andai Allah swt. Menghendaki tentulah dia jadikan kalian semua
orang-orang kaya, tidak ada yang miskin. Dan andai Dia menghendaki, tentulah
dia jadikan kalian semua miskin, tidak ada yang kaya. Akan tetapi, Dia
menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain.
Sumber Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid.
Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
|
Menumpuk Ilmu
|
Menumpuk Ilmu
Hasan Bashri berkata,
Janganlah engkau termasuk orang yang menumpuk ilmu para ulama dan
kata-kata orang bijak, lalu mengikuti orang-orang bodoh dalam berbuat.
Sumber Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid.
Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
|
Cara Menolong Pelaku Kemungkaran
|
Cara Menolong Pelaku Kemungkaran
Syekh Abdul Qadir Jailani menasihati,
Duhai, Nak!
Jangan menolak orang lain dengan nafsu dan hawamu*. Akan tetapi,
tolaklah dia berdasarkan imanmu. Iman berarti penolak. Bila engkau menolak
seorang dengan ingkar demi Allah semata, tentu Dia akan membantumu menghapus
kemungkarannya dan menolongmu menyelamatkan pelakunya.
Bila engkau menolak kemungkarannya lantaran faktor hawa nafsumu,
setanmu, dan seleramu, Dia akan menghinakanmu dan tidak akan membantumu
menolong pelakunya sehingga dirimu tidak kuasa melakukannya.
Iman menjadi dasar penolaknya. Oleh karena itu, siapa saja yang
menolak kemungkaran bukan karena dasar iman maka dirinya tidak disebut
sebagai penolak kemungkaran. Menolak kemungkaran itu semata karena Allah,
tidak semata karena engkau ataupun karena manusia. Demi agama-Nya, bukan demi
dirimu. Karena-Nya, bukan karenamu
Footnote(*) = Maksudnya, jangan sampai
motif untuk menolak kemungkaran karena faktor nafsu dan kepongahan dirimu. Tetapi
jadikan iman sebagai motifnya
Sumber Pustaka :
Jailani, Abdul Qadir, Al-Fath
ar-Rabbbani. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Jailani, Abdul Qadir. 1992. Futuh
al-Ghaib. Cetakan 2. Damaskus: Dar al-Bab
|
Selasa, 29 Oktober 2019
Ilmu Saja Tak Ada Guna
|
Ilmu
Saja Tak Ada Guna
Imam
Al-Ghazali berkata,
Hai
anakku!
Janganlah engkau menjadi orang yang
miskin amal dan meyakini bahwa ilmu saja (yang tidak engkau amalkan) bisa
menolongmu.
Bayangkanlah, andai seorang ahli perang
berada di hutan membawa sepuluh pedang dan beberapa senjata lainnya, lalu ada
harimau besar menyerangnya. Maka apa yang akan terjadi menurutmu? Apakah senjata-senjata
itu bisa melindunginya dari terkaman harimau jika tidak digunakan? Tentu
saja, senjata-senjata tersebut tak akan bisa melindunginya kecuali jika
digunakan dan diayunkan untuk menebas leher harimau itu.
Demikian pula halnya dengan seorang yang
berilmu. Sekalipun ia telah membaca dan mempelajari ilmu itu sebanyak seratus
ribu kali, ilmu itu tidak ada gunanya kecuali jika diamalkan
Sumber
Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
|
Senin, 28 Oktober 2019
Pohon dan Air
|
Pohon
dan Air
Syekh
Abdul Qadir Jailani menasihati,
Pikirkan akibat buruk perbuatan yang
engkau lakukan. Dengan begitu, dirimu akan mudah menjauhinya. Engkau terlena
dalam pohon kealpaan. Keluarlah darinya untuk melihat cahaya matahari dan
menemukan jalan.
Pohon kealpaan disuburkan dengan air kebodohan.
Pohon kesadaran dan makrifat disuburkan dengan air perenungan. Pohon tobat
disuburkan dengan air penyesalan. Pohon cinta disuburkan dengan air
keridhaan.
Sumber
Pustaka :
Jailani,
Abdul Qadir, Al-Fath ar-Rabbbani. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Jailani,
Abdul Qadir. 1992. Futuh al-Ghaib. Cetakan 2. Damaskus: Dar al-Bab
|
Waktumu adalah umurmu
|
Waktumu
adalah umurmu
Imam
Al-Ghazali berkata,
Waktumu adalah umurmu. Dan umurmu adalah
modalmu. Dengan modal itulah engkau berdagang. Dengan modal itu pula engkau
mencapai kenikmatan abadi di sisi Allah swt.
Jadi, setiap nafasmu adalah mutiara yang
tiada ternilai karena tak bisa tergantikan. Jika berlalu, ia tak pernah
kembali lagi.
Maka janganlah engkau menjadi seperti
orang-orang bodoh yang tertipu, yang setiap hari berbahagia karena kekayaan
mereka bertambah padahal umur mereka semakin berkurang. Lalu apa baiknya
harta bertambah, tetapi umur berkurang?
Janganlah engkau berbahagia kecuali bila
ilmu atau amal salehmu bertambah. Karena ilmu dan amal saleh adalah teman
yang akan menemanimu dalam kubur; di saat keluarga, harta, anak, dan
sahabatmu tidak ada yang mau menyertaimu.
Sumber
pustaka : Ibnu Katsir, Al-Hafidzh. 2002. Al-Bidayah wan Nihayah. Riyadh: Dar
al-Wathan.
|
Sabtu, 26 Oktober 2019
Tiga macam saudara
Tiga macam saudara
Imam Al-Ghazali berkata,
Saudara untuk akhiratmu maka janganlah engkau
perhatikan selain agamanya.
Saudara
untuk duniamu maka janganlah engkau perhatikan selain akhlaknya yang baik.
Saudara untuk menghiburmu maka janganlah
engkau perhatikan selain keselamatan dirimu dari keburukan, fitnah, dan
kekejiannya
Niat itu lebih dalam daripada amal
Niat itu lebih dalam daripada
amal
Hasan Bashri, Berkata,
Niat itu lebih dalam daripada Amal
Langganan:
Komentar (Atom)