Rabu, 30 Oktober 2019

Menjaga lisan



Menjaga lisan

Hasan Bashri berkata,
     Orang yang tidak bisa menjaga lisannya maka tidak bisa mengikat agamanya.
Dan ia berkata,
      Barang siapa banyak bicara maka banyak berdusta.

Sumber Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ujian kekayaan dan kefakiran

Ujian kekayaan dan kefakiran

Hasan Bashri berkata,
     Andai Allah swt. Menghendaki tentulah dia jadikan kalian semua orang-orang kaya, tidak ada yang miskin. Dan andai Dia menghendaki, tentulah dia jadikan kalian semua miskin, tidak ada yang kaya. Akan tetapi, Dia menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain.

Sumber Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Menumpuk Ilmu

Menumpuk Ilmu

Hasan Bashri berkata,
     Janganlah engkau termasuk orang yang menumpuk ilmu para ulama dan kata-kata orang bijak, lalu mengikuti orang-orang bodoh dalam berbuat.

Sumber Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Cara Menolong Pelaku Kemungkaran


Cara Menolong Pelaku Kemungkaran

Syekh Abdul Qadir Jailani menasihati,
     Duhai, Nak!
     Jangan menolak orang lain dengan nafsu dan hawamu*. Akan tetapi, tolaklah dia berdasarkan imanmu. Iman berarti penolak. Bila engkau menolak seorang dengan ingkar demi Allah semata, tentu Dia akan membantumu menghapus kemungkarannya dan menolongmu menyelamatkan pelakunya.
     Bila engkau menolak kemungkarannya lantaran faktor hawa nafsumu, setanmu, dan seleramu, Dia akan menghinakanmu dan tidak akan membantumu menolong pelakunya sehingga dirimu tidak kuasa melakukannya.
     Iman menjadi dasar penolaknya. Oleh karena itu, siapa saja yang menolak kemungkaran bukan karena dasar iman maka dirinya tidak disebut sebagai penolak kemungkaran. Menolak kemungkaran itu semata karena Allah, tidak semata karena engkau ataupun karena manusia. Demi agama-Nya, bukan demi dirimu. Karena-Nya, bukan karenamu
      
Footnote(*) = Maksudnya, jangan sampai motif untuk menolak kemungkaran karena faktor nafsu dan kepongahan dirimu. Tetapi jadikan iman sebagai motifnya  

Sumber Pustaka :
Jailani, Abdul Qadir, Al-Fath ar-Rabbbani. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Jailani, Abdul Qadir. 1992. Futuh al-Ghaib. Cetakan 2. Damaskus: Dar al-Bab

Selasa, 29 Oktober 2019

Ilmu Saja Tak Ada Guna

Ilmu Saja Tak Ada Guna

Imam Al-Ghazali berkata,
Hai anakku!
     Janganlah engkau menjadi orang yang miskin amal dan meyakini bahwa ilmu saja (yang tidak engkau amalkan) bisa menolongmu.
     Bayangkanlah, andai seorang ahli perang berada di hutan membawa sepuluh pedang dan beberapa senjata lainnya, lalu ada harimau besar menyerangnya. Maka apa yang akan terjadi menurutmu? Apakah senjata-senjata itu bisa melindunginya dari terkaman harimau jika tidak digunakan? Tentu saja, senjata-senjata tersebut tak akan bisa melindunginya kecuali jika digunakan dan diayunkan untuk menebas leher harimau itu.
     Demikian pula halnya dengan seorang yang berilmu. Sekalipun ia telah membaca dan mempelajari ilmu itu sebanyak seratus ribu kali, ilmu itu tidak ada gunanya kecuali jika diamalkan

Sumber Pustaka: Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Senin, 28 Oktober 2019

Pohon dan Air

Pohon dan Air
                       
Syekh Abdul Qadir Jailani menasihati,
     Pikirkan akibat buruk perbuatan yang engkau lakukan. Dengan begitu, dirimu akan mudah menjauhinya. Engkau terlena dalam pohon kealpaan. Keluarlah darinya untuk melihat cahaya matahari dan menemukan jalan.
     Pohon kealpaan disuburkan dengan air kebodohan. Pohon kesadaran dan makrifat disuburkan dengan air perenungan. Pohon tobat disuburkan dengan air penyesalan. Pohon cinta disuburkan dengan air keridhaan.

Sumber Pustaka :
Jailani, Abdul Qadir, Al-Fath ar-Rabbbani. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Jailani, Abdul Qadir. 1992. Futuh al-Ghaib. Cetakan 2. Damaskus: Dar al-Bab

Waktumu adalah umurmu

Waktumu adalah umurmu

Imam Al-Ghazali berkata,
     Waktumu adalah umurmu. Dan umurmu adalah modalmu. Dengan modal itulah engkau berdagang. Dengan modal itu pula engkau mencapai kenikmatan abadi di sisi Allah swt.
     Jadi, setiap nafasmu adalah mutiara yang tiada ternilai karena tak bisa tergantikan. Jika berlalu, ia tak pernah kembali lagi.
     Maka janganlah engkau menjadi seperti orang-orang bodoh yang tertipu, yang setiap hari berbahagia karena kekayaan mereka bertambah padahal umur mereka semakin berkurang. Lalu apa baiknya harta bertambah, tetapi umur berkurang?
     Janganlah engkau berbahagia kecuali bila ilmu atau amal salehmu bertambah. Karena ilmu dan amal saleh adalah teman yang akan menemanimu dalam kubur; di saat keluarga, harta, anak, dan sahabatmu tidak ada yang mau menyertaimu.

Sumber pustaka : Ibnu Katsir, Al-Hafidzh. 2002. Al-Bidayah wan Nihayah. Riyadh: Dar al-Wathan.

Sabtu, 26 Oktober 2019

Tiga macam saudara

Tiga macam saudara

Imam Al-Ghazali berkata,
     Saudara untuk akhiratmu maka janganlah engkau perhatikan selain agamanya.
     Saudara untuk duniamu maka janganlah engkau perhatikan selain akhlaknya yang baik.
     Saudara untuk menghiburmu maka janganlah engkau perhatikan selain keselamatan dirimu dari keburukan, fitnah, dan kekejiannya

Ruysd, Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibnu. Bidayah al-Mujtahid. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Niat itu lebih dalam daripada amal

Niat itu lebih dalam daripada amal

Hasan Bashri, Berkata,
     Niat itu lebih dalam daripada Amal

Sumber Pustaka : Al-Jauzi, Ibnu. Adab al-Hasan al-bashri, Damaskus: Dar an-Nawadir.